Sabtu, 13 April 2013

SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB 1
SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA

A.  ARTI SISTEM
Pengertian Sistem Menurut Davis, G.B, (1991 : 45 ) Sistem secara fisik adalah kumpulan dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu sasaran. Sistem ekonomi merupakan perpaduan dari aturan–aturan atau cara–cara yang menjadi satu kesatuan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam perekonomian. Hal ini mencakup seluruh proses dan kegiatan masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup atau mencapai kemakmuran.


B.  PERKEMBANGAN SISTEM PEREKONOMIAN
1.    SISTEM EKONOMI PASAR
Sistem ekonomi pasar adalah suatu sistem ekonomi dimana seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sistem ini sesuai dengan ajaran dari Adam Smith, dalam bukunya An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.
2.    SISTEM EKONOMI PERENCANAAN
Sistem perekonomian etatisme/sosialis merupakan perekonomian yang menghendaki kemakmuran masyarakat secara merata dan tidak adanya penindasan ekonomi. Untuk mewujudkan kemakmuran yang merata, pemerintah harus ikut campur dalam perekonomian. Dasar yang digunakan dalam sistem ekonomi etatisme/sosialis adalah ajaran Karl Max, dimana ia berpendapat bahwa apabila kepemilikan pribadi dihapuskan maka tidak akan memunculkan masyarakat yang berkelas-kelas sehingga akan menguntungkan semua pihak. Negara yang menganut sistem ekonomi etatisme/sosialis sudah tidak ada lagi. Uni Soviet (sekarang Rusia) beserta negara-negara pengikutnya telah gagal dalam menjalankan prinsip sosialisme sebagai cara hidupnya baik secara ekonomi, moral, maupun sosial dan politik. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya kemampuan pemerintah pusat untuk menangani seluruh masalah yang muncul, baik di tingkat pusat maupun ditingkat daerah. Selain itu, pada kenyataannya telah terjadi banyak penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah.

3.    SISTEM EKONOMI CAMPURAN
Sistem ekonomi campuran merupakan penggabungan anatara mekanisme pasar dengan campur tangan pemerintah. Sistem ekonomi campuran ini juga dibedakan ke dalam dua jenis sistem ekonomi, yaitu Market socialism  dimana peran pemerintah yang tampak lebih dominan dan Social Market dimana mekanisme pasarlah yang lebih dominan walaupun tetap ada campur tangan dari pemerintah. Contoh negara yang menganut sistem ekonomi campuran Market Socialism adalah Swedia. Sedangkan contoh negara yang menganut sistem ekonomi campuran Social Market adalah Inggris dan Jerman.

C.  SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
1.    Sistem perekonomian sebelum orde baru
Orde lama adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia. Orde lama berlangsung dari tahun 1945 sampai 1968, dalam jangka waktu tersebut Indonesia menggunakan bergantian system ekonomi yaitu system ekonomi liberal dan system ekonomi komando.
Disaat menggunakan system ekonomi liberal, Indonesia menggunakan system pemerintahan Parlementer. Presiden Soekarno digulingkan waktu Indonesia menggunakan system ekonomi komando.
Setelah turunnya presiden soekarno hatta dari tumpuk kepresidenan maka berakhirlah orde lama, kepemimpinan disahkan kepada Jendral soeharto mulai memegang kendali . Pemerintahan dan menanamkan era kepemimpinannya sebagai orde baru konsefrasi penyelenggaraan system pemerintahan dan kehidupan demokrasi menitip beratkan pada aspek kestabilan politik dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

2.    Demokrasi Ekonoimi
Demokrasi ekonomi terkait erat dengan pengertian kedaulatan rakyat di bidang ekonomi. Istilah kedaulatan rakyat itu sendiri biasa dikembangkan oleh para ilmuwan sebagai konsep filsafat hukum dan filsafat politik. Sebagai istilah, kedaulatan rakyat itu lebih sering digunakan dalam studi ilmu hukum daripada istilah demokrasi yang biasa dipakai dalam ilmu politik. Namun, pengertian teknis keduanya sama saja, yaitu samasama berkaitan dengan prinsip kekuasaan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Di samping itu, penggunaan kedua istilah ini juga terkait dengan perbedaan tradisi keilmuan dan praktik yang berbeda antara Eropah Barat dan Eropah Timur.
Di zaman modern, wacana demokrasi tumbuh dan berkembang dalam alam pikiran individualisme-liberalisme barat, sedangkan wacana kedaulatan rakyat populer di dalam tradisi keilmuan Eropa Timur yang lebih menghargai paham sosialisme yang didasarkan atas sikap-sikap kritis terhadap individualisme-liberalisme Eropa Barat. Karena itu, demokrasi dalam wacana ilmu politik menurut tradisi Eropah Barat dan Anglo-Amerika biasanya hanya mencakup pengertian-pengertian demokrasi di lapangan kehidupan politik (political democracy) dalam arti yang lebih sempit dibandingkan apa yang dipahami di lingkungan negara-negara Eropah Timur.
Dalam wacana tentang kedaulatan rakyat yang berkembang di Eropah Timur, konsep kekuasaan tertinggi yang bersifat filosofis itu dipahami tidak saja mencakup pengertian-pengertian di bidang politik, melainkan juga di bidang ekonomi. Namun, terlepas dari perbedaan itu, berkembangnya wacana mengenai demokrasi dan kedaulatan rakyat itu dalam sejarah sama-sama dikembangkan sebagai respons terhadap kegagalan paham yang dianut sebelumnya yang lebih menekankan kekuasaan tertinggi berada di tangan Raja (paham Kedaulatan Raja). Baik di barat maupun di timur, gelombang demokratisasi dan berkembangnya aspirasi ke arah paham kedaulatan rakyat itu meluas selama abad ke-18 dan 19, sehingga kekuasaan para Raja yang ada sebelumnya ditumbangkan atau setidak-tidaknya dibatasi dengan ketat. Bahkan banyak kerajaan yang berubah menjadi Republik, seperti Perancis pasca Revolusi ataupun Uni Soviet pasca revolusi Bolsewijk. Sementara itu, kekuasaan para Raja seperti di Inggeris, Belanda, dan kerajaan lainnya dibatasi kekuasaannya dengan dibentuknya lembaga perwakilan rakyat atau parlemen dan diperkenalkannya paham konstitusionalisme modern yang membatasi kekuasaan dalam naskah konstitusi secara tertulis.

3.    Sistem Ekonomi Sesudah Orde Baru
Pada masa Demokrasi Terpimpin, negara bersama aparat ekonominya mendominasi seluruh kegiatan ekonomi sehingga mematikan potensi dan kreasi unit-unit ekonomi swasta. Sehingga, pada permulaan Orde Baru program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha mengendalikan tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Tindakan pemerintah ini dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650 % setahun. Hal itu menjadi penyebab kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan pemerintah.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar