Senin, 17 November 2014

Dampak Peristiwa Politik Pada IHSG Dan Nilai Tukar Rupiah



Hasil pemilu yang tak sesuai ekspektasi investor membuat kurs rupiah terhadap dolar melorot tajam pada Kamis, 10 April 2014. Rupiah pun menjadi mata uang terlemah di Asia karena turun hingga 0,56 persen.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia terus menurun pada hari pertama setelah penyelenggaraan pemilu legislatif 2014. Indeks kini berpotensi turun ke titik terendah lantaran hasil pemilu mengecewakan investor. Pada pembukaan perdagangan Kamis, 10 April 2014, IHSG langsung bertengger di level 4.829,3. Indeks anjlok 1,8 persen dari posisi Selasa, 8 April 2014, yang bertengger di angka 4.921,4. Menjelang tengah hari, tepatnya pada pukul 11.30 WIB, IHSG merosot ke level 4.769,7 atau turun 3,08 persen. Posisi terendah IHSG selama perdagangan adalah 4.764,2. Kepala Periset Recapital Securities, Pardomuan Sihombing, mengatakan IHSG akan mengalami tekanan akibat hasil quick count pemilu tidak sesuai dengan harapan pasar.
Menurut Ketua MPR Zulkifli Hasan kondisi ekonomi yang jatuh itu juga akibat dari pemberitaan politik akhir-akhir ini yang negatif. Selain IHSG, indikator nyata lain adalah nilai tukar rupiah terhadap dollar yang mencapai Rp 12.324,-Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG terpangkas 51,065 poin (1,01%) ke level 4.981,064. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 10,473 poin (1,21%) ke level 841,928.Kemarin IHSG melaju 32 poin didorong aksi beli investor asing. Investor masih menanti hasil pemilihan pimpinan MPR yang digelar hari ini.Wall Street terkena koreksi tajam dalam perdagangan yang ramai. Investor melepas saham setelah lemahnya data ekonomi Jerman memicu kekhawatiran lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Bursa-bursa di Asia bergerak mix pagi hari ini. Melemahnya Wall Street semalam memberi tekanan negatif.
Berikut situasi di bursa-bursa regional pagi hari ini:
  • Indeks Nikkei 225 anjlok 205,88 poin (1,30%) ke level 15.577,95.
  • Indeks Hang Seng naik 107,48 poin (0,46%) ke level 23.422,52.
  • Indeks Komposit Shanghai menguat 6,16 poin (0,26%) ke level 2.363,87.
  • Indeks Straits Times turun 15,45 poin (0,48%) ke level 3.228,54.

Pascapemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) Jumat, 11 April 2014 pagi mengalami pelemahan hingga 100 poin atau melorot 0,88 % ke level Rp11.458 per dolar AS.Selain nilai tukar mata uang Garuda yang mengalami pelemahan, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga masih dalam kondisi lunglai pascapemilu Legislatif.Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menilai, kondisi tersebut bukan hal yang luar biasa dan tidak perlu dikhawatirkan."Namanya juga pasar keuangan, bisa menguat sedikit atau melemah sedikit. Itu hal yang biasa. Kemarin sebelum pemilu, pasarnya menguat. Setelah pemilu melemah, itu disebutnya profit taking (ambil keuntungan). Menurut saya tidak ada yang luar biasa dan tidak perlu dikhawatirkan," ujar Mirza di Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/4/2014).
Menurut Mirza, hal yang terpenting adalah menjaga angka fundamental perekonomian Indonesia agar tetap terjaga dengan baik. Misalnya, surplusnya neraca perdagangan pada Februari lalu, juga inflasi yang mengalami tren penurunan pada April ini.Ia menjelaskan, bulan April akan ada penurunan inflasi karena masuknya musim panen. "Jadi sebenarnya tidak ada perlu dikhawatirkan. Rupiah menguat dan melemah sedikit, itu hal yang biasa," ucapnya.Lebih lanjut Mirza menerangkan, para pelaku pasar saat ini masih menunggu kepastian soal siapa partai koalisi yang akan mendampingi partai unggulan. Ia bilang, pasar keuangan saat ini bergerak berdasarkan ekspektasi.Kejelasan kondisi pasar keuangan akan lebih jelas setelah Pemilu Presiden pada 9 Juli mendatang. "Nanti setelah 9 Juli sudah lebih jelas, kemudian mereka (investor) mencerna,” kata Mirza.Menurutnya, pemilu setelah orde reformasi Indonesia sudah ada sejak 1999, 2004, dan 2009. Dalam masa itu, investor akan mencerna mengenai koalisi. “Kalau pemilu sudah teruji, jika ada fluktuasi itu biasa," jelas Mirza.
Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat,  pada bulan Maret 2014 nilai tukar rupiah di level Rp11.360 per dolar AS. Angka itu menguat 2,19 % dibanding dengan nilai tukar pada akhir Februari 2014.Sementara itu, secara rata-rata, nilai tukar rupiah Maret 2014 tercatat di level Rp11.420 per dolar AS atau menguat 4,38 % dibanding dengan rata-rata rupiah pada Februari 2014 sebesar Rp 11.919 per dolar AS.Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menyatakan, dengan perkembangan ini, rupiah sampai dengan Maret 2014 menguat 7,13 % dibanding dengan level akhir tahun 2013 atau secara rata-rata menguat 2,85 % dibandingkan dengan rata-rata rupiah tahun lalu.Menurutnya, perekonomian kian berimbang dan mendorong perbaikan kinerja sektor eksternal telah berdampak pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.Oleh sebab itu, BI akan tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya dan didukung berbagai upaya untuk meningkatkan pendalaman pasar uang."Berbagai kemajuan dalam pendalaman pasar uang baik rupiah maupun valas seperti mini MRA dan transaksi lindung nilai akan ditingkatkan dan menjadi fokus kebijakan ke depan," ucap Tirta.
Pasca pertemuan Joko Widodo dan Prabowo, rupiah dan saham langsung menguat tajam. Penguatan rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari ini merupakan tertinggi di kawasan Asia.Pada Jumat (17/10), IHSG naik 77,33 poin ke level 5.028,94 atau 1,56 persen. Sedangkan rupiah menguat 150 poin (1,24 persen) di level Rp 12.110 per dolar AS.Pasar keuangan kembali bergairah pasca kegaduhan politik yang terjadi selama hampir satu bulan ini. Hal itu dipicu kekalahan koalisi partai pendukung Jokowi di parlemen, seperti disahkannya RUU Pemilihan Kepala Daerah, Kemenangan ketua DPR dan MPR yang berasal dari koalisi merah putih, atau yang bersebrangan dengan partai pendukung Jokowi. gejolak politik yang terjadi pada tiga pekan terakhir (26 September – 13 Oktober 2014) mengakibatkan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan merosot paling tajam di kawasan Asia.
Selama periode tersebut, rupiah melemah 1,3 persen dan IHSG merosot 4,3 persen. Fenomena ini membuktikan bahwa selain faktor eksternal, kisruh politik domestik cukup signifikan memberikan dampak negatif di pasar finansial. Memanasnya suhu politik memicu aksi jual investor asing di pasar modal. Total net sell dalam periode tersebut mencapai Rp 7 triliun.Menteri Keuangan Chatib Basri yang ditanya mengenai kenaikan indeks dan rupiah mengatakan pertemuan kedua tokoh tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar. "Tentu ada pengaruh domestik, namun tidak besar," ujar Chatib di Jakarta, Jumat (17/10).Menurut dia, penguatan nilai tukar dan pasar saham juga terjadi di beberapa negara emerging market dan kawasan Asia. Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan kerjasama seluruh elemen bangsa akan membuat pasar tenang. Untuk itu dia berharap pemimpin republik ini bersatu. Pihak yang menang tidak sombong dan mau mengajak pihak yang kalah. Sedangkan yang kalah mau membantu yang menang. "Bangsa ini terlalu besar dan majemuk untuk dibangun satu kelompok. Semua pihak harus bekerja sama," ujar CT.
Minggu lalu, Chairul sempat sesumbar jika Jokowi dan Prabowo bertemu, dia yakin pasar akan menguat. Hal itu  "Bertemu saja, tidak usah bersepakat, maka iris kuping saya kalau pasar tidak menguat. Sekarang sudah terbukti," ujarnya.


SUMBER:
http://katadata.co.id/berita/2014/10/17/jokowi-prabowo-bertemu-ihsg-dan-rupiah-menguat-tertinggi-di-asia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar