Hasil pemilu yang tak
sesuai ekspektasi investor membuat kurs rupiah terhadap dolar melorot tajam
pada Kamis, 10 April 2014. Rupiah pun menjadi mata uang terlemah di Asia karena
turun hingga 0,56 persen.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek
Indonesia terus menurun pada hari pertama setelah penyelenggaraan pemilu
legislatif 2014. Indeks kini berpotensi turun ke titik terendah lantaran hasil
pemilu mengecewakan investor. Pada pembukaan perdagangan Kamis, 10 April 2014,
IHSG langsung bertengger di level 4.829,3. Indeks anjlok 1,8 persen dari posisi
Selasa, 8 April 2014, yang bertengger di angka 4.921,4. Menjelang tengah hari,
tepatnya pada pukul 11.30 WIB, IHSG merosot ke level 4.769,7 atau turun 3,08
persen. Posisi terendah IHSG selama perdagangan adalah 4.764,2. Kepala Periset
Recapital Securities, Pardomuan Sihombing, mengatakan IHSG akan mengalami
tekanan akibat hasil quick count pemilu tidak sesuai dengan harapan
pasar.
Menurut Ketua MPR
Zulkifli Hasan kondisi ekonomi yang jatuh itu juga akibat dari pemberitaan
politik akhir-akhir ini yang negatif. Selain IHSG, indikator nyata lain adalah
nilai tukar rupiah terhadap dollar yang mencapai Rp 12.324,-Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG
terpangkas 51,065 poin (1,01%) ke level 4.981,064. Sementara Indeks LQ45
terkoreksi 10,473 poin (1,21%) ke level 841,928.Kemarin IHSG melaju 32 poin
didorong aksi beli investor asing. Investor masih menanti hasil pemilihan
pimpinan MPR yang digelar hari ini.Wall Street terkena koreksi tajam dalam
perdagangan yang ramai. Investor melepas saham setelah lemahnya data ekonomi
Jerman memicu kekhawatiran lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.
Bursa-bursa di Asia bergerak mix pagi hari ini. Melemahnya Wall Street semalam
memberi tekanan negatif.
Berikut situasi di bursa-bursa regional pagi hari ini:
- Indeks Nikkei 225 anjlok 205,88 poin (1,30%) ke level
15.577,95.
- Indeks Hang Seng naik 107,48 poin (0,46%) ke level
23.422,52.
- Indeks Komposit Shanghai menguat 6,16 poin (0,26%) ke
level 2.363,87.
- Indeks Straits Times turun 15,45 poin (0,48%) ke level
3.228,54.
Pascapemilihan
Umum (Pemilu) Legislatif, nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS)
Jumat, 11 April 2014 pagi mengalami pelemahan hingga 100 poin atau melorot 0,88
% ke level Rp11.458 per dolar AS.Selain nilai tukar mata uang Garuda yang
mengalami pelemahan, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga masih dalam
kondisi lunglai pascapemilu Legislatif.Deputi Gubernur Senior BI Mirza
Adityaswara menilai, kondisi tersebut bukan hal yang luar biasa dan tidak perlu
dikhawatirkan."Namanya juga pasar keuangan, bisa menguat sedikit atau
melemah sedikit. Itu hal yang biasa. Kemarin sebelum pemilu, pasarnya menguat.
Setelah pemilu melemah, itu disebutnya profit taking (ambil keuntungan).
Menurut saya tidak ada yang luar biasa dan tidak perlu dikhawatirkan,"
ujar Mirza di Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/4/2014).
Menurut Mirza, hal
yang terpenting adalah menjaga angka fundamental perekonomian Indonesia agar
tetap terjaga dengan baik. Misalnya, surplusnya neraca perdagangan pada
Februari lalu, juga inflasi yang mengalami tren penurunan pada April ini.Ia
menjelaskan, bulan April akan ada penurunan inflasi karena masuknya musim
panen. "Jadi sebenarnya tidak ada perlu dikhawatirkan. Rupiah menguat dan
melemah sedikit, itu hal yang biasa," ucapnya.Lebih lanjut Mirza
menerangkan, para pelaku pasar saat ini masih menunggu kepastian soal siapa
partai koalisi yang akan mendampingi partai unggulan. Ia bilang, pasar keuangan
saat ini bergerak berdasarkan ekspektasi.Kejelasan kondisi pasar keuangan akan
lebih jelas setelah Pemilu Presiden pada 9 Juli mendatang. "Nanti setelah
9 Juli sudah lebih jelas, kemudian mereka (investor) mencerna,” kata Mirza.Menurutnya,
pemilu setelah orde reformasi Indonesia sudah ada sejak 1999, 2004, dan 2009.
Dalam masa itu, investor akan mencerna mengenai koalisi. “Kalau pemilu sudah
teruji, jika ada fluktuasi itu biasa," jelas Mirza.
Sebelumnya, Bank
Indonesia mencatat, pada bulan Maret 2014 nilai tukar rupiah di level
Rp11.360 per dolar AS. Angka itu menguat 2,19 % dibanding dengan nilai tukar
pada akhir Februari 2014.Sementara itu, secara rata-rata, nilai tukar rupiah
Maret 2014 tercatat di level Rp11.420 per dolar AS atau menguat 4,38 %
dibanding dengan rata-rata rupiah pada Februari 2014 sebesar Rp 11.919 per
dolar AS.Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menyatakan,
dengan perkembangan ini, rupiah sampai dengan Maret 2014 menguat 7,13 %
dibanding dengan level akhir tahun 2013 atau secara rata-rata menguat 2,85 %
dibandingkan dengan rata-rata rupiah tahun lalu.Menurutnya, perekonomian kian
berimbang dan mendorong perbaikan kinerja sektor eksternal telah berdampak pada
menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.Oleh sebab itu, BI akan tetap
konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai
fundamentalnya dan didukung berbagai upaya untuk meningkatkan pendalaman pasar
uang."Berbagai kemajuan dalam pendalaman pasar uang baik rupiah maupun
valas seperti mini MRA dan transaksi lindung nilai akan ditingkatkan dan
menjadi fokus kebijakan ke depan," ucap Tirta.
Pasca pertemuan
Joko Widodo dan Prabowo, rupiah dan saham langsung menguat tajam. Penguatan
rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari ini merupakan tertinggi
di kawasan Asia.Pada Jumat (17/10), IHSG naik 77,33 poin ke level 5.028,94 atau
1,56 persen. Sedangkan rupiah menguat 150 poin (1,24 persen) di level Rp 12.110
per dolar AS.Pasar keuangan kembali bergairah pasca kegaduhan politik yang
terjadi selama hampir satu bulan ini. Hal itu dipicu kekalahan koalisi partai
pendukung Jokowi di parlemen, seperti disahkannya RUU Pemilihan Kepala Daerah,
Kemenangan ketua DPR dan MPR yang berasal dari koalisi merah putih, atau yang
bersebrangan dengan partai pendukung Jokowi. gejolak politik yang terjadi pada
tiga pekan terakhir (26 September – 13 Oktober 2014) mengakibatkan nilai tukar
rupiah dan indeks harga saham gabungan merosot paling tajam di kawasan Asia.
Selama periode
tersebut, rupiah melemah 1,3 persen dan IHSG merosot 4,3 persen. Fenomena ini
membuktikan bahwa selain faktor eksternal, kisruh politik domestik cukup
signifikan memberikan dampak negatif di pasar finansial. Memanasnya suhu
politik memicu aksi jual investor asing di pasar modal. Total net sell dalam
periode tersebut mencapai Rp 7 triliun.Menteri Keuangan Chatib Basri yang
ditanya mengenai kenaikan indeks dan rupiah mengatakan pertemuan kedua tokoh
tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar. "Tentu ada pengaruh
domestik, namun tidak besar," ujar Chatib di Jakarta, Jumat (17/10).Menurut
dia, penguatan nilai tukar dan pasar saham juga terjadi di beberapa negara emerging
market dan kawasan Asia. Di tempat terpisah, Menko Perekonomian
Chairul Tanjung mengatakan kerjasama seluruh elemen bangsa akan membuat pasar
tenang. Untuk itu dia berharap pemimpin republik ini bersatu. Pihak yang menang
tidak sombong dan mau mengajak pihak yang kalah. Sedangkan yang kalah mau membantu
yang menang. "Bangsa ini terlalu besar dan majemuk untuk dibangun satu
kelompok. Semua pihak harus bekerja sama," ujar CT.
Minggu lalu, Chairul sempat sesumbar jika
Jokowi dan Prabowo bertemu, dia yakin pasar akan menguat. Hal itu
"Bertemu saja, tidak usah bersepakat, maka iris kuping saya kalau
pasar tidak menguat. Sekarang sudah terbukti," ujarnya.
SUMBER:
http://katadata.co.id/berita/2014/10/17/jokowi-prabowo-bertemu-ihsg-dan-rupiah-menguat-tertinggi-di-asia