Perkembangan akuntansi dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah kondisi budaya, ekonomi, hukum, sosial dan
politik di lingkungan dimana akuntansi itu berkembang. Akuntansi di negara A
akan berbeda dengan negara lainnya. Karena setiap negara mempunyai budaya,
ekonomi, social, hukum dan politik yang berbeda-beda juga. Negara yang
mempunyai kondisi budaya, ekonomi, sosial, politik dan hukum yang sama akan
mempunyai perkembangan akuntansi yang sama. Budaya merupakan faktor
lingkungan yang paling kuat mempengaruhi sistem akuntansi suatu negara dan juga
bagaimana individu dinegara tersebut menggunakan informasi akuntansi. Banyak di
literatur ditemukan argumentasi bahwa akuntansi sangat dipengaruhi oleh budaya
(Violet, 1983), dan kurangnya konsensus dalam praktik akuntansi antar negara
karena tujuannya adalah budaya bukan masalah teknis (Hofstede, 1986).
Argumentasi ini telah membawa kesepakatan yang tak tertulis bahwa budaya negara
mempengaruhi dalam memilih teknik akuntansi.
Ada tiga aspek penting kajian tentang pengaruh
budaya terhadap sistem akuntansi, diantaranya adalah (a) pelaporan keuangan,
(b) pertimbangan dan sikap auditor, dan (c) sistem pengendalian
manajemen. Mangacu pada model Hofstede's (1980) untuk pembentukan dan
stabilisasi pola budaya, Gray (1988) mengembangkan kerengka untuk menjelaskan
bagaimana budaya mempengaruhi sistem akuntansi nasional. Secara singkat, Gray (1988)
menjelaskan bahwa nilai-nilai budaya yang diamalkan secara bersama-sama di
negara tertentu akan merubah budaya akuntansi yang seterusnya akan mempengaruhi
sistem akuntansi negara yang bersangkutan.
Budaya adalah nilai dan attitude yang
digunakan dan diyakini oleh suatu masyarakat atau negara. Variabel budaya
tergambar dalam kelembagaan Negara yang bersangkutan (dalam sistem hukum dll).
Hofstede (1980; 1983) meneliti dimensi budaya di 39 negara. Dia mendefinisikan
budaya sebagai “The collective programming of the mind which distinguishes the
members of one human group from another' (Hofstede 1983) dan membagi dimensi
budaya menjadi 4 bagian:
1. Individualism (lawan dari collectivism).
Individualism merefleksikan sejauh mana individu mengharapkan kebebasan pribadi.
Ini berlawan dengan collectivism (kelompok) yang didefinisikan menerima
tanggungjawab dari keluarga, kelompok masyarakat (suku dll).
2. Power distance. Didefinisikan sebagai
jarak kekuasan antara Boss B dengan Bawahan S dalam hirarki organisasi adalah
berbeda antara sejauh mana B dapat menentukan perilaku S dan sebaliknya
(Hofstede 1983). Pada masyarakat yang power distance besar, adanya pengakuan
tingkatan didalam masyarakat dan tidak memerlukan persamaan tingkatan.
Sedangkan pada masyarakat yang power distance kecil, tidak mengakui adanya
perbedaan dan membutuhkan persamaan tingkatan didalam masyarakat.
3. Uncertainty avoidance. Ketidakpastian mengenai
masa depan adalah sebagai dasar kehidupan masyarakat. Masyarakat yang tingkat
ketidakpastiannya tinggi akan mengurangi dampak ketidakpastian dengan
teknologi, peraturan dan ritual. Sedangkan masyarakat dengan tingkat
menghindari ketidak pastian yang rendah akan lebih santai sehingga
praktik lebih tergantung prinsip dan penyimpangan akan lebih bisa ditoleransi.
4. Masculinity, (Vs femininity). Nilai
Masculine menekankan pada nilai kinerja dan
pencapaian yang nampak, sedangkan Feminine lebih pada preferensi
pada kualitas hidup, hubungan persaudaraan, modis dan peduli pada yang lemah.
Empat dimensi budaya diatas mengidenfikasi
nilai dasar yang mencoba untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan budaya
secara umum di seluruh dunia. Hofstede dan Bond (1988) menambahkan dimensi
budaya kelima yaitu Confucian Dynamism, yang kemudian dinamakan dengan
orientasi jangka panjang. Hofstede (2001) mendefinisikan orientasi jangka
panjang sebagai gambaran masa datang yang berorientasi pada reward dan
punishment. Dimensi ini diciptakan ketika survey budaya Cina dan mungkin
mewakili perbedaan antara budaya barat dan timur.
Gray (1988) mengidentifikasi empat budaya
akuntansi yang bisa digunakan untuk mendefinisikan sub-budaya akuntansi:
Professionalism, Uniformity, Conservatism, and secrecy. Penjelasan mengenai
nilai-nilai sub-budaya tersebut sebagai berikut:
1. Professionalism vs. Statutory Control adalah
preferensi untuk melaksanakan pertimbangan profesional individu dan memelihara
aturan-aturan yang dibuat sendiri untuk mengatur profesionalitas dan menolak
patuh dengan perundangan-undangan dan kontrol dari pihak pemerintah.
2. Uniformity vs. Flexibility adalah
suatu preferensi untuk memberlakukan praktik akuntansi yang seragam antara
perusahaan dan penggunaan praktik tersebut secara konsisten dan menolak
flexibelitas.
3. Conservatism vs. Optimism adalah suatu
preferensi untuk suatu pendekatan hati-hati dalam pengukuran dan juga sesuai
dengan ketidakpastian masa yang akan datang. Dimensi menolak untuk konsep lebih
optimis dan pendekatan yang penuh resiko.
4. Secrecy vs Transparency adalah suatu
preferensi untuk bersikap konfidensial dan membatasi disclosure informasi
mengenai bisnis dan menolak untuk bersikap transfaran, terbuka, dan pendekatan
pertanggungjawaban pada publik.
Hubungan antara dimensi budaya menurut
Hofstede dan dimensi akuntansi menurut Gray dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut;
1. Profesionalisme berhubungan erat dengan
individualisme yang tinggi, sangat tergantung pada pertimbangan profesional dan
menolak pengawasan hukum. Profesionalisme juga berhubungan dengan tingkat
menghindari ketidakpastian yang rendah (menerima variasi pertimbangan
profesional) dan masculiniti serta power distance yang kecil (butuh dana
pensiun dan mutual fund lainnya).
2. Keseragaman dekat dengan tingkat
menghindari ketidakpastian yang kuat dan individualisme yang rendah serta
power distance yang tinggi.
3. Konservatisme berhubungan kuat dengan
menghindari ketidakpastian yang kuat dan induavidualisme yang rendah dan
maskulinitas yang tinggi.
4. Secrecy sangat dekat dengan
menghindari ketidakpastian yang tinggi dan power distance yang besar
serta individualisme dan maskulinitas yang rendah.
Referensi:
Gray,
S.J. 1988. Towards a theory of cultural influence on the development of
accounting systems internationally. Abacus. Vol. 24: 1-15.
Hofstede,
G. 2001. Culture's consequences: Comparing values, behaviors, institutions, and
organizations across nations. Thousand Oaks: Sage Publications.
http://randifrandika1.blogspot.co.id/search?updated-max=2016-05-31T01:35:00-07:00&max-results=7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar